Prodi Pendidikan Biologi Sambut Kuliah Perdana dengan Mengadakan Kuliah Tamu dan Teleconference Bersama De Martines Telemedicine Panel (DeMaTePa), Italy.
Ternate - Program Studi Pendidikan Biologi menyambut kuliah perdana dengan menggelar Kuliah Tamu dan Teleconference bersama De Martines Telemedicine Panel (DeMaTePa), Italy. Kegiatan ini terlaksana dengan baik dan difasilitasi oleh Kepala Kantor Urusan Internasional Roswita M. Aboe., S.Pd., MA., sekaligus membuka kegiatan tersebut.
Kuliah Tamu dan Teleconference yang mengusung tema Genetic Test dilaksanakan pada Senin, 20 Februari 2023, dengan menghadirkan Dr. Caterina Trozzi, Nelia Zamponi, Ph.D., dan Prof. Dr. Nando Campanella dari Italy.
Metode-Metode Laboratorium untuk Penyakit Genetik dibawakan oleh Dr. Caterina Trozzi yang merupakan seorang ahli biologi molekuler serta Doktor Riset Genetika dan Biologi Molekuler. Pada kesempatan tersebut, Dr. Caterina Trozzi menyampaikan mengenai pentingnya genetic tes. Genetik tes merupakan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan tes laboratorium untuk memeriksa variasi DNA dalam satu individu, biasanya dilakukan dalam konteks perawatan medis, studi keturunan atau forensik. Dalam dunia medis, hasil tes genetik dapat digunakan untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan dugaan adanya penyakit genetik.
Lebih lanjut Dr. Caterina Trozzi menyampaikan bahwa tes genetik dapat dilakukan pada usia dewasa dan sangat penting dilakukan sejak dini bagi wanita hamil. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosa sejak awal kemungkinan adanya penyakit genetik yang bisa diturunkan kepada janin.
"Analisis genetik dilakukan untuk mengidentifikasi kelainan genetik/keturunan serta menjadi diagnosis banding pada penyakit-penyakit somatik tertentu seperti Kanker." imbuhnya. Genetik tes ini digunakan untuk menjawab pertanyaan medis terkait hukum, misalnya pada kasus kriminal, melalui tes genetik maka dapat diidentifikasi gambaran umum dari genetik seseorang yang sudah tidak bisa dikenali lagi akibat dari kejadian kriminal tersebut. Genetik tes tidak hanya melibatkan satu individu, namun juga dapat mengungkap identitas biologis anggota keluarga lainnya.
Materi selanjutnya adalah Gangguan Neurologis Genetik oleh Nelia Zamponi, Ph.D. Pada presentasi tersebut disampaikan bahwa gangguan neurologis genetik relatif umum terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan yang terjadi pada usia dewasa. Mengenali manifestasi klinis dari Genetic Neurological Disorders penting untuk pemilihan tes genetik, interpretasi hasil tes genetik, dan konsultasi genetik. Kombinasi informasi klinis dan teknologi canggih akan meningkatkan hasil tes genetik dalam pengaturan klinis.
Diagnosa Gangguan Neurologi Genetik dapa dilakukan melalui pengecekan pasien, profil penyakit, pengumpulan sampel, pengujian genetik, diagnosis genetik. Pengumpulan sampel, DNA dapat diekstraksi dari sel darah putih (tabung EDTA), air liur, atau jaringan, stabil pada suhu kamar, jumlah yang dibutuhkan sangat kecil dan sampling anggota keluarga juga dapat membantu.
"Penyakit Neuromuskuler Genetik adalah kelompok gangguan yang didefinisikan secara luas yang semuanya melibatkan cedera atau disfungsi saraf atau otot perifer", sambungnya. Gangguan neuromuskuler genetik jarang terjadi. Namun, secara keseluruhan, penyakit ini cukup sering terjadi di Eropa dengan perkiraan prevalensi 1,6/100.000. Sebagian besar memiliki penyebab genetik, dengan 600 gen telah diidentifikasi. Karena heterogenitas klinis dan genetik yang signifikan, baik untuk banyak gen yang terlibat (heterogenitas genetik) dan berbagai jenis mutasi dalam gen tunggal (heterogenitas alelik), gangguan neuromuskuler genetik seringkali menjadi tantantangan untuk didiagnosis.
Kuliah tamu dan teleconference tersebut dihadiri oleh Koordinator Prodi Pendidikan Biologi, Suparman, S.Pd., M.Si. Ph.D., serta mahasiswa, dan beberapa dosen baik dari Prodi Pendidikan Biologi maupun dari Prodi Pendidikan Kimia, secara virtual. Proses kuliah tamu kali ini juga difasilitasi oleh Indry Widiasti Anwar, S.Pd., M.A., yang juga bertindak sebagai host.
Kuliah Tamu dan Teleconference yang mengusung tema Genetic Test dilaksanakan pada Senin, 20 Februari 2023, dengan menghadirkan Dr. Caterina Trozzi, Nelia Zamponi, Ph.D., dan Prof. Dr. Nando Campanella dari Italy.
Metode-Metode Laboratorium untuk Penyakit Genetik dibawakan oleh Dr. Caterina Trozzi yang merupakan seorang ahli biologi molekuler serta Doktor Riset Genetika dan Biologi Molekuler. Pada kesempatan tersebut, Dr. Caterina Trozzi menyampaikan mengenai pentingnya genetic tes. Genetik tes merupakan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan tes laboratorium untuk memeriksa variasi DNA dalam satu individu, biasanya dilakukan dalam konteks perawatan medis, studi keturunan atau forensik. Dalam dunia medis, hasil tes genetik dapat digunakan untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan dugaan adanya penyakit genetik.
Lebih lanjut Dr. Caterina Trozzi menyampaikan bahwa tes genetik dapat dilakukan pada usia dewasa dan sangat penting dilakukan sejak dini bagi wanita hamil. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosa sejak awal kemungkinan adanya penyakit genetik yang bisa diturunkan kepada janin.
"Analisis genetik dilakukan untuk mengidentifikasi kelainan genetik/keturunan serta menjadi diagnosis banding pada penyakit-penyakit somatik tertentu seperti Kanker." imbuhnya. Genetik tes ini digunakan untuk menjawab pertanyaan medis terkait hukum, misalnya pada kasus kriminal, melalui tes genetik maka dapat diidentifikasi gambaran umum dari genetik seseorang yang sudah tidak bisa dikenali lagi akibat dari kejadian kriminal tersebut. Genetik tes tidak hanya melibatkan satu individu, namun juga dapat mengungkap identitas biologis anggota keluarga lainnya.
Materi selanjutnya adalah Gangguan Neurologis Genetik oleh Nelia Zamponi, Ph.D. Pada presentasi tersebut disampaikan bahwa gangguan neurologis genetik relatif umum terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan yang terjadi pada usia dewasa. Mengenali manifestasi klinis dari Genetic Neurological Disorders penting untuk pemilihan tes genetik, interpretasi hasil tes genetik, dan konsultasi genetik. Kombinasi informasi klinis dan teknologi canggih akan meningkatkan hasil tes genetik dalam pengaturan klinis.
Diagnosa Gangguan Neurologi Genetik dapa dilakukan melalui pengecekan pasien, profil penyakit, pengumpulan sampel, pengujian genetik, diagnosis genetik. Pengumpulan sampel, DNA dapat diekstraksi dari sel darah putih (tabung EDTA), air liur, atau jaringan, stabil pada suhu kamar, jumlah yang dibutuhkan sangat kecil dan sampling anggota keluarga juga dapat membantu.
"Penyakit Neuromuskuler Genetik adalah kelompok gangguan yang didefinisikan secara luas yang semuanya melibatkan cedera atau disfungsi saraf atau otot perifer", sambungnya. Gangguan neuromuskuler genetik jarang terjadi. Namun, secara keseluruhan, penyakit ini cukup sering terjadi di Eropa dengan perkiraan prevalensi 1,6/100.000. Sebagian besar memiliki penyebab genetik, dengan 600 gen telah diidentifikasi. Karena heterogenitas klinis dan genetik yang signifikan, baik untuk banyak gen yang terlibat (heterogenitas genetik) dan berbagai jenis mutasi dalam gen tunggal (heterogenitas alelik), gangguan neuromuskuler genetik seringkali menjadi tantantangan untuk didiagnosis.
Kuliah tamu dan teleconference tersebut dihadiri oleh Koordinator Prodi Pendidikan Biologi, Suparman, S.Pd., M.Si. Ph.D., serta mahasiswa, dan beberapa dosen baik dari Prodi Pendidikan Biologi maupun dari Prodi Pendidikan Kimia, secara virtual. Proses kuliah tamu kali ini juga difasilitasi oleh Indry Widiasti Anwar, S.Pd., M.A., yang juga bertindak sebagai host.